Senin, 01 November 2010

Natal & Lilin



Lilin dalam bahasa Inggris disebut candle yang diserap dari bahasa Latin 'Cardere' yang berarti kelap-kelip. Lilin sudah dikenal oleh bangsa Mesir sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Orang Yahudi setiap Jumat sore, 18 menit sebelum matahari terbenam selalu menyalakan lilin untuk menyambut dimulainya hari Sabat. Lilin selain bisa digunakan sebagai alat penerang, bisa digunakan juga sebagai alat terapi (candle healing).

Pada jaman Dinasti Sung (960-1279) lilin digunakan juga sebagai jam waktu. Lilin tersebut diikat dan digandul dengan besi atau batu. Begitu lilin tersebut habis terbakar, gandul pemberatnya akan jatuh ke dalam wadah, sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring dan keras.

Pada saat sekarang ini, lilin dan Natal sudah merupakan satu kesatuan yang sukar untuk bisa dipisah lagi. Rasanya kalau kita merayakan Natal tanpa adanya lilin berarti ada sesuatu yang kurang. Maka tidaklah heran apabila omset penjualan lilin di Eropa 45% dilakukan pada saat menjelang Natal. Sebenarnya tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang mengkaitkan antara lilin dan Natal. Budaya Lilin ini diambil dari sejak jaman Romawi ketika mereka merayakan pesta Saturnalia (penyembahan Dewa Saturn).

Bagi umat Kristen, lilin itu merupakan simbol dari kelahiran Yesus yang membawakan terang ke dalam dunia ini. Yohanes 1:5 yang berbunyi "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya dan (9a) terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang…" Selain itu kehadiran malaikat membawa kabar gembira bagi para gembala di padang yang mana kemuliaan Tuhan bersinar terang di tengah malam (Lukas 2:8-12) merupakan analogi terhadap peran Yesus sebagai terang dunia.

Lilin dapat membawa terang untuk melawan kegelapan. Terang selalu menguasai kegelapan dan tidak pernah ditelan oleh kegelapan, betapa pun kecilnya terang itu. Lilin itu ikhlas berkorban membakar dirinya sendiri agar dapat menjadi terang. Tanpa pengorbanan, sulit menjadi terang. Lilin melambangkan keberanian untuk memberikan terang. Mereka yang berada di dalam kegelapan pada suatu saat pasti akan membutuhkan terang.

Umat Katolik sering menyalakan lilin sambil berdoa. Lilin yang menyala melambangkan suatu kurban yang dilakukan sekaligus dengan mempersembahkan doa dan menerima kehendak Tuhan. Sedangkan lilin liturgi misalnya untuk Paskah minimum 51% bahan dasarnya harus dari lilin lebah. Menurut St. Agustinus, lilin lebah merupakan lambang tubuh Kristus, lambang kemanusiaan-Nya yang lahir dari seorang perawan (seperti lilin lebah yang dihasilkan oleh lebah); sumbunya adalah jiwa Kristus; dan nyala api adalah pikiran-Nya.

Lilin dalam dekorasi Advent Krans pada umumnya terdiri dari lima lilin. Setiap minggu yang dilewati dinyalakan satu lilin, selama empat minggu berturut-turut. Simbol warna lilin yang digunakan adalah tiga lilin warna ungu sebagai lambang penyesalan dan pertobatan. Satu lilin merah melambangkan sukacita. Sedangkan lilin besar yang di tengah berwarna putih melambangkan lilin Kristus. Lilin ini baru dinyalakan pada hari Natal.

Alkisah ada empat lilin yang sedang menyala dengan kelap-kelip kecil. Apabila kita datang dengan menghampirinya secara perlahan, kita akan bisa mendengar suara lilin itu berbicara dengan lembut.

Lilin Pertama: “Aku adalah damai, hanya sayangnya tidak ada lagi membutuhkan sinar-Ku. Aku merasa lelah.” Api lilin tersebut mulai mengecil dan akhirnya padam.

Lilin Kedua: “Aku adalah kepercayaan, tetapi tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Aku merasa sedih dan kecewa.” Setelah itu datanglah angin lembut yang menghembus padam lilin tersebut.

Setelah itu Lilin Ketiga pun turut berbicara: “Aku adalah harapan. Tetapi sekarang ini sudah tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Mereka telah berubah menjadi egois. Mereka lebih saling mementingkan diri sendiri daripada sesamanya.” Akhirnya padam pulalah lilin yang ketiga ini.

Setelah ketiga lilin tersebut padam, datanglah seorang anak kecil. “Kenapa ketiga lilin ini padam?” Melihat itu ia merasa bersedih hati. Berserulah Lilin yang ke empat: “Aku adalah kasih, selama aku masih menyala. Aku dapat membagikan api kasihku kepada mereka yang telah padam agar bisa menyala kembali.”

Setelah itu diambilah lilin yang keempat oleh anak tersebut untuk menyalakan kembali, ketiga lilin yang telah padam. Dengan api kasih, kita dapat menghidupkan kembali rasa damai, kepercayaan maupun harapan yang telah padam. Agar mereka bisa menyala dan terang kembali. Tidak percaya? Cobalah, karena Natal adalah waktu yang tepat untuk saling berbagi kasih dan menyalakan kembali api yang telah padam.