Sabtu, 04 Desember 2010

CINTA SEORANG IBU

Yohanes 19:26.Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan
murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya:
"Ibu, inilah, anakmu!"

1 Tesalonika 2:7.Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit

Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.

Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan :
"Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tida k berbuat dosa lagi

Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati"

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk
penjara karena kejahatan yang dilakukannya

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu
dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan
"Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya"

Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah
Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan
Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut
Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya

Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba

Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik,
akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya t ida k ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah
Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat

Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber
darah

Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng t ida k berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya
Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng
Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya

Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya
Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya.

Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu
karena mereka adalah sumber kasih Tuhan Yesus bagi kita di dunia ini

Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita..

Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang t ida k bisa dinilai dengan apapun

There is a story living in us that speaks of our place in the world

It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves

Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati
Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan


Gunakah waktu sebaik mungkin, karena waktu tida k akan bisa diputar kembali

2
Yohanes 1:5.Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu--bukan seolah-olah aku
menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada
pada kita dari mulanya--supaya kita saling mengasihi.

Memiliki Doa Yang Penuh Kuasa

“Karena itu hendaklah kamu saling
mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang
benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5:16
Sebagai
umat Tuhan tentunya kita senantiasa menaikkan doa kepadaNya, entah itu
doa untuk kebutuhan, perlindungan, kelepasan, permohonan, ucapan
syukur, syafaat dan lain sebagainya. Tetapi seringkali terjadi bahwa
kita sendiri kurang yakin apakah doa yang dinaikkan itu benar-benar
membawa pengaruh dalam kehidupan kita.

Bahkan ada waktu-waktu
tertentu kita malah meminta orang lain yang kita anggap lebih rohani
dari kita, mungkin bapa rohani kita, gembala, ataupun pendeta, untuk
berdoa bagi kita. Kita menganggap bahwa kalau mereka yang berdoa, pasti
lebih “ampuh” dibanding kalau kita yang menaikkan doa tersebut.
Sehingga pada akhirnya, pendeta-lah yang dianggap memiliki “kesaktian”
dalam berdoa.

Tuhan memang memakai sebagian orang yang khusus
dipanggil olehNya untuk melayani umatNya dalam pelayanan pekerjaan
Tuhan seperti di gereja. Dan otoritas daripadaNya juga turun ke atas
mereka. Dan bukan suatu kesalahan jika kita meminta dukungan doa dari
mereka. Tetapi dalam hal berdoa, Tuhan tidak membatasi siapa saja yang
dapat menaikkan doa yang memiliki kuasa dan benar-benar membawa
pengaruh bagi kehidupan kita. Bahkan orang yang baru menerima Kristus
sebagai Tuhan dan juruselamatnya-pun juga bisa memilki doa yang
mempunyai kuasa.
Kalau begitu, bagaimana dapat memiliki doa yang
penuh kuasa, supaya kita tidak lagi bergantung kepada orang lain untuk
berdoa bagi diri kita sendiri?

1. Mengaku Dosa
“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu” Yak 5:16a
Halangan
yang paling utama bagi doa kita adalah dosa. Sebanyak apapun kita
berdoa, namun jika masih ada dosa yang masih diperbuat, maka kita tidak
akan memiliki doa yang berkuasa.

“Sesungguhnya, tangan TUHAN
tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak
kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu
dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia
menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah
segala dosamu.” Yes 59:1-2
Akuilah dosa yang ada, bertobat dan
datang pada Yesus. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia. Dia
akan menghapuskan setiap dosa kita akui di hadapannya.

Jangan lakukan lagi dosa yang pernah diperbuat. Minta kekuatan bagi Tuhan supaya dapat hidup benar di hadapanNya.
2. Saling Mendoakan
“Dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.” Yak 5:16b

Ada
kalanya bahwa ketika kita sendiri sedang dalam kondisi tidak sehat,
tetapi Tuhan meminta kita untuk mendoakan orang sakit. Atau bahkan
ketika kita sendiri sedang ada masalah, tetapi ada orang lain yang
meminta untuk didoakan atas segala masalah yang mereka hadapi.

Ketika
kita taat mengikuti perintah Tuhan, kita akan melihat pekerjaan Tuhan
yang luar biasa. Kita akan melihat bahwa Tuhan sendiri yang akan
membereskan masalah-masalah yang kita hadapi, ketika kita taat
mengikuti perintahNya.
Doakanlah orang-orang yang membutuhkan dukungan doa, maka Tuhan akan memberikan apa yang kita ingini.

3. Yakin
“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yak 5:16c
Keraguan
dan kebimbangan identik dengan ketidakpercayaan. Kisah Petrus yang
berjalan di atas air mencerminkan hal ini. Petrus tidak seratus persen
percaya bahwa dia bisa berjalan di atas air, walaupun sempat sesaat
berjalan di atas air.

Keraguan muncul dalam dirinya ketika dia
melihat keadaan sebenarnya yang dia hadapi. Di saat keraguan itu
muncul, di saat itulah dia mulai tenggelam.
“Hendaklah ia memintanya
dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang
sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh
angin.

” Yak 1:6
Yakinlah dengan apa yang didoakan, percaya
sepenuhnya bahwa doa yang dinaikkan akan membawa pengaruh kepada
kehidupan kita. Jangan bimbang dan jangan ragu.

“Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” ” Mar 9:23

Tempat Dimana Anda Menang

Matius 26:36
"Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."

Taman Getsemani di Bukit Zaitun adalah salah satu tempat favorit Tuhan Yesus untuk berdoa sepanjang pelayanan-Nya di dunia (Lukas 22:39). Tapi orang-orang beriman melihatnya sebagai tempat terbaik pertempuran rohani yang besar. Kisah Yesus memohon kepada Bapa-Nya sangat berarti bagi orang Kristen, dan inilah salah satu alasan adalah bahwa Tuhan Yesus tampak begitu manusia.

Dari kitab Injil, kita dapat melihat bahwa Yesus mengalami rasa takut, kecemasan, dan ketakutan sebagaimana dalam doa-doaNya yang bisa kita baca hari-hari ini. Dengan kata lain, Dia pun memiliki perasaan seperti kita ketika cobaan datang ke dalam hidup-Nya.
Setan mengejek orang-orang beriman dengan mengatakan bahwa mereka tidak akan dapat menjadi seperti Yesus karena Dia adalah Tuhan.

Tetapi, perlu diingat ketika di dunia Yesus adalah manusia seratus persen, yang berarti bahwa Dia mengalami hal-hal di dunia seperti kita juga. Namun, Dia memenangkan setiap peperangan rohani dan kehidupan yang Dia hadapi.
Rahasia kesuksesan-Nya adalah apa yang Dia lakukan di taman Getsemani. Dia mengundurkan sendiri sejak dan berdoa sampai kehendak-Nya diserahkan penuh kepada Bapa. Pertempuran itu dimenangkan di lutut-Nya.

Yesus meninggalkan taman tawanan, tetapi pada saat yang sama Dia berjalan keluar menjadi pemenang. Dia menerima kehendak Tuhan untuk hidup-Nya, meskipun ia harus menanggung rasa sakit nantinya. Juruselamat kita telah dipanggil untuk mati, dan Dia tahu bahwa berkat-berkat potensial dan konsekuensi semua berada di tangan Bapa.

Orang-orang beriman pun menghadapi cobaan. Tuhan menggunakan kesulitan-kesulitan ini agar kita semakin serupa dengan gambar Anak-Nya(Rm. 8:29). Jika kita mau menjadi seperti Yesus, kita harus belajar dari tindakan-Nya. Dalam menghadapi kesulitan, kita harus mencari kehendak Tuhan, berkomitmen untuk mengikutinya, dan meninggalkan konsekuensi di tangan-Nya yang Maha Kuasa.

Ketika badai datang menyerang, jangan mencari pertolongan lain. Datanglah kepada Allah karena Dia adalah sumber kemenangan sejati.

Tuhan suami yang setia





Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam namaNya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi.(Yesaya 54:5)

Ada banyak sekali lukisan dipakai oleh penulis Alkitab untuk menceritakan hubungan Tuhan Allah dengan umatNya: gembala dan kawanan domba, pokok anggur dan carang-carangnya, tukang periuk dan tanah liat, petani dan ladangnya, tuan dan hamba, guru dan murid, dan lain-lain.

Luar biasa berani, nabi Yesaya menggambarkan hubungan Tuhan Allah dan umatNya itu seperti hubungan suami dan istri. Sejajar dengan itu: penebus dan yang ditebus. (Dalam tradisi Israel penebus adalah seorang laki-laki yang berhak menikahi seorang janda untuk melindungi dan menjamin hidupnya).

Gambaran suami dan istri ini hendak mengungkapkan bahwa hubungan kita dengan Tuhan Allah adalah sebuah relasi yang spesial atau istimewa, sangat personal dan intim. Hubungan umat dan Tuhannya itu berdasar atas pengenalan yang mendalam, perjanjian, kekudusan, kasih dan kesetiaan yang bersifat timbal-balik layaknya sebuah pernikahan.

Pelanggaran atau penyimpangan hubungan dengan Tuhan Allah itu sama saja dengan perselingkuhan atau perzinahan.

AYAT ALKITAB



"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada 
bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:43)

TANGGUH DALAM KRISTUS







Awie Wijaya Wong Wong
ke "
AYAT ALKITAB"



Roma 12:9-21; Mazmur 18:7
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa” (Roma 12:12).



Sudah
banyak buku ditulis tentang bagaimana menghadapi badai kehidupan.
Berikut ini akan diberikan 3 poin penting supaya kita menjadi orang
Kristen yang berkemenangan dan tangguh dalam menghadapi medan kehidupan
ini:

Pertama, bersukacitalah dalam pengharapan. Sukacita ini
bukanlah sekadar sukacita biasa, tetapi sukacita dalam pengharapan.
Bagaimana bersukacita dalam pengharapan? Kalau Anda, misalnya,
dijanjikan kenaikan pangkat 3 bulan lagi, apa yang ada dalam benak
Anda? Setiap hari Anda bersukacita dan berharap agar janji itu segera
terealisasikan. Begitu juga dengan janji Kristus kepada kita. Kita
bersukacita karena janji Allah menjadi milik kita. Kalau toh janji itu
belum digenapi sekarang, percayalah bahwa semua yang diucapkan-Nya itu
pasti digenapi.



Kedua, sabarlah dalam kesesakan. Nasihat yang
kedua ini agaknya amat berat bagi mereka yang benar-benar dalam
kesesakan. Bagaimana kita dapat bertahan menghadapi masalah yang tak
kunjung berakhir ini? Itulah keluhan bagi banyak orang Kristen. Kita
ingin sekali persoalan kita hari ini selesai tanpa adanya perpanjangan
lagi! Tetapi Tuhan kadang mendidik kita dalam kesengsaraan supaya kita
tahan uji ? menjadi orang Kristen yang berkualitas tinggi. Tetapi Tuhan
berkata, “Bersabarlah!” Tuhan memberikan perintah, tetapi Ia juga
memberikan solusi dengan memberikan kekuatan kepada Anda untuk
menghadapi badai itu.



Ketiga, bertekunlah dalam doa. Kalau Anda
tidak mengerti kuasa doa, Anda hanya akan menganggap bahwa doa itu
hanyalah penghias ibadah dan bagian dari liturgi keagamaan belaka. Itu
benar, tetapi sebagian kecil saja. Sebenarnya doa adalah sarana
komunikasi kita dengan Allah. Kalau boleh meminjam istilah modern, doa
itu ibarat telepon genggam yang membuat kita bisa berkomunikasi dengan
orang lain yang berjauhan. Bedanya, kalau telpon genggam bisa dipakai
kalau ada sinyal, tetapi doa bisa kita lakukan di mana saja, bahkan di
puncak gunung sekalipun. Dan bila kita berdoa di dalam roh, maka kita
akan membangun diri kita sendiri, seperti kata firman Tuhan (1 Kor.14:4). Karena itu berdoalah dengan tekun!



Renungan:
Jadilah
orang Kristen yang tangguh supaya nama Tuhan tidak dipermalukan.
Bukannya Tuhan tidak mengerti keadaan Anda, tetapi sebenarnya Ia
bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi Anda. Percayalah!

Orang Kristen tangguh bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa.